kita tidak dihargai dari beratnya beban yang kita pikul, tapi kita dihargai dari cara-cara kita menyelesaikan beban yang kita pikul........

Jumat, 04 Desember 2009

paradigma "jika saja" dan "akan"

Kita pasti mengetahui sebuah kata yang sangat dahsyat dampaknya pada semangat, pada kehidupan, pada keinginan, bahkan pada kemampuan. Kata itu adalah “jika saja”, kedahsyatannya mampu mengajak kita untuk mengeluh, mengajak kita untuk mengharapkan jarum detik berdetak ke kiri bukan ke kanan.

Coba saja kita renungkan sejenak, pernahkah kita mengungkapkan sesuatu yang membuat kita kecewa, yang pada kenyataannya jauh dari harapan bahkan kadang menyakitkan. Misal kegagalan, penyakit, kerugian, dan banyak teman-temanya yang mungkin saja itu adalah cobaan atau bahkan laknat, kita tidak tahu, yang harus kita lakukan adalah intropeksi, selalu mencoba memperbaiki diri menganalisa mengapa bisa terjadi kemudian bangkit melawan keterpurukan, menjadikan kegagalan sebagai senjata untuk meraih keberhasilan, menjadikan penyakit menjadi semangat untuk hidup sehat serta sebagai pengingat bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara, dengan atau tanpa adanya penyakit itu setiap yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya.

Sekarang saatnya kita ubah paradigma kita, dari “jika saja” menjadi “akan”, dari keterpurukan menjadi kebangkitan, dari menyerah menjadi terus berjuang, dari lemah menjadi tegar, dari berpikir kehidupan ini berakhir dengan kegagalan menjadi kehidupan ini bermula dari kegagalan. Tanamkan semangat dalam diri “ Saya akan maju, saya tidak menyerah dengan kegagalan, saya tidak menyerah kepada penyakit, saya akan terus berjuang”.

Jarum jam sesuai kodratnya akan terus bergerak ke kanan, waktu akan terus berputar ke depan, tidak akan berputar ke belakang, jangan menyerah, jangan menjadikan kegagalan, keterpurukan,penyakit menang melawan kita, kitalah yang harus keluar sebagai pemenang.

Dalam surat Ar Ra’du ayat 11 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”

Jika kita menyerah maka kita akan selesai walau kehidupan kita belum usai, mati sebelum ajal menjemput. Kita ini adalah makhluk yang dibekali akal maka sudah selayaknya kita menggunakan karunia itu untuk menunjang perjuangan hidup kita mencari bekal di dunia. Nikmat ALLAH sungguh banyak sehingga kita tidak mampu menghitungnya. Jika ALLAH berkehendak mengambil sedikit saja nikmatnya apakah lantas kita berhak kufur?

Coba renungkanlah “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni'mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni'mat Allah).” (QS. Ibrahimn Ayat 34).

Banyak diantara kita hanya menghitung kesusahan, hanya menghitung kegagalan jarang menghitung ni'mat kemudian mensyukurinya.

Alangkah baiknya kita ingat pula
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim Ayat 7).

Semoga kita termasuk dalam hamba-hamba yang mensyukuri nikmat-Nya bukan hamba-hamba yang kufur akan nikmat-Nya. Amin.
Wallahu a’lam bish-shawabi.
Selengkapnya...

Selasa, 15 September 2009

Pulang (ke) Kampung (Akhirat)

Cerita ini terjadi di negara tercintaku, saat ini dan beberapa waktu kedepan tepatnya dipenghujung Ramadhan yang mulia akan terjadi demam "pulang kampung", merajut tali silaturahim.

"Lebaran" itu kalimat sakti yang menjadi idola, saatnya berkumpul bersama keluarga yang dalam satu tahun jarang bertemu karena berbagai alasan, saatnya melakukan perjuangan memburu tiket demi pulang kampung tepat waktu.

Lantas kalo tiap tahun kita diingatkan oleh adanya ritual "pulang kampung", apakah kita juga setiap saat mengingat bahwa kita semua pasti "pulang kampung" juga, karena kita semua memiliki kampung yaitu akhirat.........jadi judulnya menjadi "Pulang (ke) Kampung (Akhirat)"

Apa yang kita siapkan jika akan pulang kampung, tentu saja perbekalan yang mantap, perbekalan yang kita harapkan dapat membawa keselamatan bagi kita dan keluarga kita hingga dapat sampai di rumah dengan selamat. Bagi pengendara kendaraan bermotor (mengendarai mobil maupun sepeda motor) pasti banyak yangharus disiapkan baik keperluan manusia juga persiapan kendaraannya. Begitupun seharusnya kita memadang apa yang harus kita siapkan jika kita nanti pulang ke kampung akhirat.

Bukankah untuk pulang kampung setiap lebaran belum tentu setiap orang melakukannya, tapi pulang ke kampung akhirat pasti setiap orang akan menjalaninya, karena setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Mari kita ingat, selepas menjalankan puasa di bulan Ramadhan kita akan menemui lebaran, tapi ingat pula bahwa kita akan berlebaran (bertemu) dengan ALLAH dan berharap akan bergembira dengan puasa kita.

“Allah berfirman,’Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah,’Saya sedang berpuasa’. Demi Dza yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi ALLAH pada hari kiamat daripada bau misk/kasturi. Dan bagi oran yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembir dengan bukanya dan ketika bertemu ALLAH mereka bergembira karena puasanya’. “ (HR. Bukhari dan Muslim)

Selamat pulang kampung, semoga selamat dan membawa keberkahan.

Siapakan juga perbekalan untuk pulang ke kampung akhirat.
Selengkapnya...

Jumat, 11 September 2009

Waktu kita Kian Sempit

"Demi masa", kemarin saat ifthar jama'i di kantor, Pak Agus, menyampaikan kultum dengan mengutip Qur'an Surah Al 'Asr

"Demi Masa

Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian
Kecuali orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran"

Entah mengapa menulis tentang masa adalah hal yang sangat menarik buatku. Kita pasti teringat kembali dan sengaja dipacu untuk ingat bahwa waktu kita di dunia tidaklah selamanya. Waktu kita terbatas, dan yang menjadi batas adalah ajal. Saat Izrail menjalankan tugasnya terhadap tubuh kita maka saat itulah jam pasir kehidupan kita di dunia telah usai. Lantas apakah yang dapat kita perbuat setelah itu, apakah akan mengisi dengan sesal yang sangat dahsyat?

Suatu ketika ada seorang dokter bercerita dalam kultumnya (maaf lupa siapa nama dokter itu), ceritanya seperti ini
"ada sesorang yang divonis sakit yang sudah parah sehingga dokternya menvonis harapan hidupnya tinggal beberapa bulan (ini menurut catatan medis, karena saya yakin sang dokterpun takkan mampu memprediksi secara tepan kapan Izrail AS akan datang pada orang itu), kemudian dia melakuakn perjalanan entah kemana tujuannya ia sendiri pun tidak tahu, dalam hatinya hanya ingin berjalan sekehendak hatinya, dan saat hatinya merasa nyaman maka ia akan berhenti di suatu klinik. Sampailah ia pada suatu klinik lalu berhenti, saat itu jam praktek sang dokter sudah tutup, tapi ia tetap saja mengetuk pintu. Alhamdulillah doktenya baik hati, dibukakan pintu dan dilayani orang itu.
Terjadi perbincangan diantara keduanya
Dokter : " Anda sakit apa pak?"
Pasien : " Saya tidak tahu dok"
Dokter : " Baiklah saya periksa dulu"

Setelah diperiksa dan ditanya sakit dan lain sebagainya sampailah pada simpulan sang dokter bahwa sang pasien mengidap penyakit yang cukup parah.

Sang pasien lalu tertawa dan terlihat bahagia

Dokter : " Mengapa anda justru bahagia dengan sakit anda, kebanyakan orang pasti akan langsung patah semangat hidup, murung" , tanya sang dokter.

Pasien : " Sebenarnya saya sudah mengetahui sakit saya, sayapun sudah mengetahui harapan hidup saya tinggal 2 bulan, saya hanya ingin memastikan ketenangan hati saya dengan melakukan perjalanan dan ALLAH yang menghentikan saya di depan klinik anda dengan memberikan ketenangan dalam hati saya"

Pasien : "Alhamdulillah dok, saat ini saya sudah bisa menerima penyakit saya, justru saya sangat merasa bahagia karena saya tahu sisa hidup saya dan saya bisa memamfaatkannya untuk beribadah dengan lebih baik, memohon ampunan ALLAH"

Cerita tersebut sangat mengusikku, apakah aku harus diperingatkan dengan cara seperti itu untuk memperbaiki kualitas ibadahku, soalnya sekarang saja ibadah ku sangat buruk kualitasnya, padahal ajal belum tentu tahu kapan datang nya, bisa esok, bisa lusa atau bahkan bisa nanti malam, Astagfirullah, bukan kematian yang kutakutkan tapi aku takut akan kesempatan yang kusia-siakan. Kesempatan yang begitu luas untuk beribadah.

Kesempatan waktu yang sering kali ku buang sia-sia. Semoga kita dapat menjadi lebih baik, memanfaatkan sesuatu yang tidak akan pernah kembali. Memanfaatkan semakin sempitnya kesempatan kita di dunia.

Selengkapnya...

Rabu, 10 Juni 2009

mengeluh? apaan tuh?

Sekarang saya akan mengajak anda bertamasya, siapkan perbekalan, karena kita akan mengunjungi tempat yang sangat indah. Sesekali perlulah untuk menjernihkan kembali jiwa dan raga kita setelah dalam keseharian bergulat dengan pekerjaan.
Saya akan mengajak anda bertamasya ke sebuah negeri yang bernama “kejujuran”.
Sebelumnya saya akan mengajukan beberapa pertanyaan, untuk menentukan siapa saja yang berhak ikut serta.

Pertanyaannya :
1. Mari kita jujur tanyakan kepada diri kita : “hari ini apa ya yang aku keluhkan, kemarin apa, pekan kemarin, bulan kemarin, tahun kemarin..... apa saja ya keluhanku?"
Silakan kalau masih ingat tulis dalam point-point.
2. Dalam sehari pernahkah anda menghitung nikmat yang anda dapatkan?
3. Dalam sepekan pernahkan anda membandingkan jumlah nikmat yang anda dapatkan dengan ungkapan syukur yang anda ucapkan?

Kemudian saya akan membagikan kepada anda sebuah note, silakan anda baca sebagai persiapan perjalanan kita :



Teman, sudahkan anda jawab semua pertanyaannya, dan sudah selesaikan membaca note yang saya bagikan. Sebenarnya perjalanan ini anda lah yang menentukan apakah anda bisa ikut serta atau tidak. Jika anda jujur menjawab pertanyaan diatas dan anda bisa membandingkan jawabannya maka anda secara otomastis bisa mengikuti tamasya ini. Oke sekarang saya rasa ini saatnya kita akan berangkat menuju negeri “kejujuran”. Bersiap-siaplah.


Selengkapnya...

Rabu, 20 Mei 2009

Pelajaran dari perjalanan malam hari, jakarta-jogja

Hampir dua bulan nggak nulis, kok malas banget ya. Padahal banyak yang ingin dituangkan walau menyempatkan membuka akun blog kok ya cuma log in aja, ngga posting tulisan. Banyak kejadian yang bisa dijadikan nasihat, juga mungkin teguran bagiku. Salah satunya masalah "hal yang paling dekat", yaitu kematian, kemarin sewaktu perjalan pulang kampung ke jogja tanggal 15 mei, naik kereta senja utama jogja, pagi hari kira-kira jam 3 lebih, kereta mengalami kecelakaan. Saat kejadian, seperti biasa saat itu jam-jamnya ngantuk dan tidur, aku tidur di kereta, terbangun karena kaget, teriakan penumpang, bangun lantas terasa kok kereta goyang, dan seperti di rem mendadak, asap muncul di gerbong, ku kira ada kebakaran, maklum orang bangun tidur, lantas ku lihat di gerbong depan dan belakang ku juga berasap, ada apa ini, Ya Rabb, aku mohon perlindungan pada-Mu. Alhamdulillah kereta berhasil berhenti, kami semua turun, seorang ibu di depanku turun tergesa tapi ia terperosok saat turun dari kereta, ternyata posisi rel kerata agak tinggi, kasian ibu itu mungkin kakiknya sakit. Setelah turun aku mencoba mencari informasi kepada sesama penumpang, ternyata kereta baru saja menabrak trus semen, ternyata asap tadi bukan dari asap kebakaran tapi dari debu semen. Kami menunggu di samping kereta, juga sebagian ada yang menunngu di jalan dan di rumah penduduk, kondisi penerangan masih lumayan bagus karena kereta pembangkit tidak mati, jadi lampu di gerbong tidak mati, hanya lokomotive yang mati dan lampu di gerbong satu yang mati. Ya Rabb, kematian itu sangat dekat, penjaga palang kereta api ternyata menjadi korban meninggal, semoga ALLAH meridhoinya meninggal dalam menjalankan tugas. Sekitar satu jam bantuan lokomotive datang dari Stasiun Sumpiuh, kereta ditarik mundur lagi ke stasiun. Peringatan bagi ku, setiap yang bernyawa pasti akan mati, kalau sudah saat nya maka kita tidak bisa memundurkannya atau minta dimajukan dari jadwalnya.

Selengkapnya...

Senin, 16 Maret 2009

Muhammad Fadhil Adz Dzaky


Alhamdulillah, 1 Maret 2009/ 4 Rabi'ul Awal 1430 H jam 07.50 WIB di RSUP Sardjito engkau melihat dunia ini untuk pertama kalinya, melihat cahaya matahari untuk mengagungkan Asma-NYA, mendengar takbir dari mulut yang berharap akan kehadiranmu menambah bobot dunia.

Harapan, ya engkau adalah harapan kami (sebagai ayah dan bunda) dalam perjuangan di medan yang sesaat, menantimu adalah saat yang sangat berharga. Hingga kami pasti menyiapkan sambutan terindah yang bisa kami persembahkan. Menyambutmu dengan adzan dan iqomah. Menyiapkan perbekalan ilmu dalam pendidikan.
Sejak saat itu aku dipanggil "ayah" dan wanita yang dari rahimnya kau di kandung dipanggil "bunda". Panggilan yang menyampaikan kebahagiaan yang tak terbayarkan.

Semoga kau menjadi anak sholeh, seperti doa yang ayah dan bunda terima sesaat setelah kelahiranmu "buurikalaka fil mawnub wasyakartal waahib wabalagho rusydah warozaqta birroh"

Selengkapnya...

Rabu, 18 Februari 2009

Kami berdua, manusia dalam urut pertama

Kami berdua, manusia dalam urut pertama
menunggumu disini
berharap menjadi saksi perjuanganmu
perjuangan yang menghantarkan kemuliaan

Kami berdua, manusia dalam urut pertama
berharap asa padamu
engkau menghadapi zaman yang berbeda
maka kami hanya bisa menarik busur
sedang engkau akan meluncur sesuai arah zamanmu walau kami bidik sasaran

Kami berdua, manusia dalam urut pertama
membagikan darah kami
membagikan tetes keringat kami
membagikan kekuatan kami
untuk mendukung perjuanganmu
menghaturkan ilmu dan semangat

Kami berdua, manusia dalam urut pertama
menantimu disini
menanti doa yang menghantarkan kami pada kemuliaan
Selengkapnya...