kita tidak dihargai dari beratnya beban yang kita pikul, tapi kita dihargai dari cara-cara kita menyelesaikan beban yang kita pikul........

Selasa, 15 September 2009

Pulang (ke) Kampung (Akhirat)

Cerita ini terjadi di negara tercintaku, saat ini dan beberapa waktu kedepan tepatnya dipenghujung Ramadhan yang mulia akan terjadi demam "pulang kampung", merajut tali silaturahim.

"Lebaran" itu kalimat sakti yang menjadi idola, saatnya berkumpul bersama keluarga yang dalam satu tahun jarang bertemu karena berbagai alasan, saatnya melakukan perjuangan memburu tiket demi pulang kampung tepat waktu.

Lantas kalo tiap tahun kita diingatkan oleh adanya ritual "pulang kampung", apakah kita juga setiap saat mengingat bahwa kita semua pasti "pulang kampung" juga, karena kita semua memiliki kampung yaitu akhirat.........jadi judulnya menjadi "Pulang (ke) Kampung (Akhirat)"

Apa yang kita siapkan jika akan pulang kampung, tentu saja perbekalan yang mantap, perbekalan yang kita harapkan dapat membawa keselamatan bagi kita dan keluarga kita hingga dapat sampai di rumah dengan selamat. Bagi pengendara kendaraan bermotor (mengendarai mobil maupun sepeda motor) pasti banyak yangharus disiapkan baik keperluan manusia juga persiapan kendaraannya. Begitupun seharusnya kita memadang apa yang harus kita siapkan jika kita nanti pulang ke kampung akhirat.

Bukankah untuk pulang kampung setiap lebaran belum tentu setiap orang melakukannya, tapi pulang ke kampung akhirat pasti setiap orang akan menjalaninya, karena setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Mari kita ingat, selepas menjalankan puasa di bulan Ramadhan kita akan menemui lebaran, tapi ingat pula bahwa kita akan berlebaran (bertemu) dengan ALLAH dan berharap akan bergembira dengan puasa kita.

“Allah berfirman,’Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah,’Saya sedang berpuasa’. Demi Dza yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi ALLAH pada hari kiamat daripada bau misk/kasturi. Dan bagi oran yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembir dengan bukanya dan ketika bertemu ALLAH mereka bergembira karena puasanya’. “ (HR. Bukhari dan Muslim)

Selamat pulang kampung, semoga selamat dan membawa keberkahan.

Siapakan juga perbekalan untuk pulang ke kampung akhirat.
Selengkapnya...

Jumat, 11 September 2009

Waktu kita Kian Sempit

"Demi masa", kemarin saat ifthar jama'i di kantor, Pak Agus, menyampaikan kultum dengan mengutip Qur'an Surah Al 'Asr

"Demi Masa

Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian
Kecuali orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran"

Entah mengapa menulis tentang masa adalah hal yang sangat menarik buatku. Kita pasti teringat kembali dan sengaja dipacu untuk ingat bahwa waktu kita di dunia tidaklah selamnya. Waktu kita terbatas, dan yang menjadi batas adalah ajal. Saat Izrail menjalankan tugasnya terhadap tubuh kita maka saat itulah jam pasir kehidupan kita di dunia telah usai. Lantas apakah yang dapat kita perbuat setelah itu, apakah akan mengisi dengan sesal yang sangat dahsyat?

Suatu ketika ada seorang dokter bercerita dalam kultumnya (maaf lupa siapa nama dokter itu), ceritanya seperti ini
"ada sesorang yang divonis sakit yang sudah parah sehingga Sang dokter menvonis harapan hidupnya tinggal beberapa bulan (ini menurut catatan medis, karena saya yakin sang dokterpun takkan mampu memprediksi secara tepan kapan Izrail AS akan datang pada orang itu, kemudian dia melakuakn perjalanan entah kemana tujuannya ia sendir pun tidak tahu, dalam hatinya hanya ingin berjalan sekehendak hatinya, dan saat hatinya merasa nyaman maka ia akan berhenti di suatu klinik). Sampailah ia pada suatu klinik lalu berhenti, saat itu jam praktek sang dokter sudah tutup. tapi ia tetap saja mengetik pintu. Alhamdulillah doktenya baik hati, dibukakanpintudan dilayani orang itu.
Terjadi perbincangan diantara keduanya
Dokter : " Anda sakit apa pak?"
Pasien : " Saya tidak Tahu dok"
Dokter : " Baiklh saya periksa dulu"

setelah diperiksa dan ditanya sakit dan lain sebagianya sampailah pada simpulan sang dokter bahwa sang pasien mengidap penyakit yang cukup parah.

Sang pasien lalu tertawa dan terlihat bahagia

Dokter : " Mengapa anda justru bahagia dengan sakit anda, kebanyakan orang pasti akan langsung patah semnagt hidup, murung" , tanya sang dokter.

Pasien : " Sebenarnya saya sudah mengetahui sakit saya, sayapun sudah mengetahui harapan hidup saya tinggal 2 bualn, saya hanyaingin mematikan ketenanngan hati saya dnegan melakukan perjalanan dan ALLAH yang menghentikan saya di depan klinaik anda dengan memberikan ketenagan dalam hati saya"

Pasien : "Alhamdulillah dok, saat ini saya sudah bisa menerima penyakit saya, justru saya sangat merasa bahagia karen saya tahu sisa hidup saya dan saya bisa memamfaatkannya untuk beribadah dengan lebih baik, memohon ampunan ALLAH"

Cerita tersebut sangat mengusikku, apakah aku harus diperingatkan dengan cara seperti itu untuk memperbaiki kualitas ibadahku, soalnya sekarang saja ibadah ku sangat buruk kualitasnya, padahal ajal belum tentu tahukapan datang nya, bisa esok, bnisa lusa atau bahkan bisa nanti malam, Astagfirullah, bukan kematian yang kutakutkan tapi aku takut akan kesempatan yang kusia-siakan. Kesempatan yang begitu luas untuk beribadah.

Kesempatan waktu yang sering kali ku buang sia-sia. Semoga kita dapat menjadi lebih baik, memanfaatkan sesuatu yang tidak akan pernah kembali. Memanfaatkan semakin sempitnya kesempatan kita di dunia.

Selengkapnya...

Rabu, 10 Juni 2009

mengeluh? apaan tuh?

Sekarang saya akan mengajak anda bertamasya, siapkan perbekalan, karena kita akan mengunjungi tempat yang sangat indah. Sesekali perlulah untuk menjernihkan kembali jiwa dan raga kita setelah dalam keseharian bergulat dengan pekerjaan.
Saya akan mengajak anda bertamasya ke sebuah negeri yang bernama “kejujuran”.
Sebelumnya saya akan mengajukan beberapa pertanyaan, untuk menentukan siapa saja yang berhak ikut serta.

Pertanyaannya :
1. Mari kita jujur tanyakan kepada diri kita : “hari ini apa ya yang aku keluhkan, kemarin apa, pekan kemarin, bulan kemarin, tahun kemarin..... apa saja ya keluhanku?"
Silakan kalau masih ingat tulis dalam point-point.
2. Dalam sehari pernahkah anda menghitung nikmat yang anda dapatkan?
3. Dalam sepekan pernahkan anda membandingkan jumlah nikmat yang anda dapatkan dengan ungkapan syukur yang anda ucapkan?

Kemudian saya akan membagikan kepada anda sebuah note, silakan anda baca sebagai persiapan perjalanan kita :



Teman, sudahkan anda jawab semua pertanyaannya, dan sudah selesaikan membaca note yang saya bagikan. Sebenarnya perjalanan ini anda lah yang menentukan apakah anda bisa ikut serta atau tidak. Jika anda jujur menjawab pertanyaan diatas dan anda bisa membandingkan jawabannya maka anda secara otomastis bisa mengikuti tamasya ini. Oke sekarang saya rasa ini saatnya kita akan berangkat menuju negeri “kejujuran”. Bersiap-siaplah.


Selengkapnya...

Rabu, 20 Mei 2009

Pelajaran dari perjalanan malam hari, jakarta-jogja

Hampir dua bulan nggak nulis, kok malas banget ya. Padahal banyak yang ingin dituangkan walau menyempatkan membuka akun blog kok ya cuma log in aja, ngga posting tulisan. Banyak kejadian yang bisa dijadikan nasihat, juga mungkin teguran bagiku. Salah satunya masalah "hal yang paling dekat", yaitu kematian, kemarin sewaktu perjalan pulang kampung ke jogja tanggal 15 mei, naik kereta senja utama jogja, pagi hari kira-kira jam 3 lebih, kereta mengalami kecelakaan. Saat kejadian, seperti biasa saat itu jam-jamnya ngantuk dan tidur, aku tidur di kereta, terbangun karena kaget, teriakan penumpang, bangun lantas terasa kok kereta goyang, dan seperti di rem mendadak, asap muncul di gerbong, ku kira ada kebakaran, maklum orang bangun tidur, lantas ku lihat di gerbong depan dan belakang ku juga berasap, ada apa ini, Ya Rabb, aku mohon perlindungan pada-Mu. Alhamdulillah kereta berhasil berhenti, kami semua turun, seorang ibu di depanku turun tergesa tapi ia terperosok saat turun dari kereta, ternyata posisi rel kerata agak tinggi, kasian ibu itu mungkin kakiknya sakit. Setelah turun aku mencoba mencari informasi kepada sesama penumpang, ternyata kereta baru saja menabrak trus semen, ternyata asap tadi bukan dari asap kebakaran tapi dari debu semen. Kami menunggu di samping kereta, juga sebagian ada yang menunngu di jalan dan di rumah penduduk, kondisi penerangan masih lumayan bagus karena kereta pembangkit tidak mati, jadi lampu di gerbong tidak mati, hanya lokomotive yang mati dan lampu di gerbong satu yang mati. Ya Rabb, kematian itu sangat dekat, penjaga palang kereta api ternyata menjadi korban meninggal, semoga ALLAH meridhoinya meninggal dalam menjalankan tugas. Sekitar satu jam bantuan lokomotive datang dari Stasiun Sumpiuh, kereta ditarik mundur lagi ke stasiun. Peringatan bagi ku, setiap yang bernyawa pasti akan mati, kalau sudah saat nya maka kita tidak bisa memundurkannya atau minta dimajukan dari jadwalnya.

Selengkapnya...

Senin, 16 Maret 2009

Muhammad Fadhil Adz Dzaky


Alhamdulillah, 1 Maret 2009/ 4 Rabi'ul Awal 1430 H jam 07.50 WIB di RSUP Sardjito engkau melihat dunia ini untuk pertama kalinya, melihat cahaya matahari untuk mengagungkan Asma-NYA, mendengar takbir dari mulut yang berharap akan kehadiranmu menambah bobot dunia.

Harapan, ya engkau adalah harapan kami (sebagai ayah dan bunda) dalam perjuangan di medan yang sesaat, menantimu adalah saat yang sangat berharga. Hingga kami pasti menyiapkan sambutan terindah yang bisa kami persembahkan. Menyambutmu dengan adzan dan iqomah. Menyiapkan perbekalan ilmu dalam pendidikan.
Sejak saat itu aku dipanggil "ayah" dan wanita yang dari rahimnya kau di kandung dipanggil "bunda". Panggilan yang menyampaikan kebahagiaan yang tak terbayarkan.

Semoga kau menjadi anak sholeh, seperti doa yang ayah dan bunda terima sesaat setelah kelahiranmu "buurikalaka fil mawnub wasyakartal waahib wabalagho rusydah warozaqta birroh"

Selengkapnya...

Rabu, 18 Februari 2009

Kami berdua, manusia dalam urut pertama

Kami berdua, manusia dalam urut pertama
menunggumu disini
berharap menjadi saksi perjuanganmu
perjuangan yang menghantarkan kemuliaan

Kami berdua, manusia dalam urut pertama
berharap asa padamu
engkau menghadapi zaman yang berbeda
maka kami hanya bisa menarik busur
sedang engkau akan meluncur sesuai arah zamanmu walau kami bidik sasaran

Kami berdua, manusia dalam urut pertama
membagikan darah kami
membagikan tetes keringat kami
membagikan kekuatan kami
untuk mendukung perjuanganmu
menghaturkan ilmu dan semangat

Kami berdua, manusia dalam urut pertama
menantimu disini
menanti doa yang menghantarkan kami pada kemuliaan
Selengkapnya...

Selasa, 06 Januari 2009

Gagal

Pernahkah kita mengalami kegagalan?

Coba ingat-ingat kembali kehidupan kita, ingat-ingat saat kita masih duduk di bangku tk, atau sd, ingat kembali dari ingatan terlampau yang mampu kita ingat……………

Lalu katakan secara jujur pada diri kita sendiri, apa saja kegagalan saya, dan kegagalan saya yang terbesar menurut saya adalah……

Ketika kita masih kanak-kanak, kita ini orang yang tangguh dalam menghadapi kegagalan. Apa buktinya? Ingatlah ketika kita berlatih berjalan, dulu sewaktu kita masih kanak-kanak. Siapa pun kita, pasti pernah jatuh dalam rangka belajar berjalan itu. Apa yang kita lakukan ketika kita jatuh? Kita bangun lagi, belajar berjalan lagi. Jatuh lagi, bangkit lagi, belajar berjalan lagi. Jatuh lagi, bangkit lagi. Begitulah berkali-kali kita jatuh, lalu bangkit lagi : sampai kita bisa berjalan! Eh, apa jadinya saat itu ya, ketika kita jatuh dalam belajar berjalan, lalu kita tidak mau bangun dan belajar berjalan lagi? Mungkin kita tidak pernah bisa berjalan seperti saat ini.

MENYIKAPI KEGAGALAN

Belajar dari Kisah Siti Hajar
Mari kita belajar pada kisah Ibunda Siti Hajar berikut
“Siti Hajar berlari-lari bolak-balik dari Shafa ke Marwah di tengah gurun yang tandus mencari air bagi anaknya. Ia tidak hanya berlari satu kali lalu berhenti ketika ia tidak menemukan air yang diperlukannya. Ia kembali lagi, dan berupaya lagi. Ketika ia gagal, maka ia berusaha lagi untuk mencari air yang sangat dibutuhkannya itu. Ketika ia gagal, ia masih terus berusaha mencari sambil berlari-lari. Dalam hatinya yang suci dan teguh, ia hanya ingin menyelamatkan anaknya, karena Allah SWT. Ia terus berupaya tanpa kenal putus asa. Meskipun sekian kali berusaha dan belum juga memperoleh air itu, ia masih terus berupaya dengan hati yang tegar tanpa kenal lelah. Setelah sekian kali berupaya, barulah ia menemukan mata air yang dibutuhkannya itu, atas pertolongan Allah Yang Maha Memberi.”

Belajar dari Keteguhan
Pernahkah pula kita mengetahui perjuangan para volunter

Untuk menciptakan lampu pijar, Edison telah melakukan 9.000 percobaan yang gagal, dan 6.000 lebih bahan telah ia coba. Sampai di sini, resapilah sebentar, “9.000 kali percobaan yang gagal dan 6.000 lebih jenis bahan dicoba…”
Sementara itu Edison telah mencoba lebih dari 50.000 kali percobaan untuk menciptakan aki.
Ketika asistennya bertanya mengapa dia terus melakukan percobaan lampu pijar, padahal sudah ribuan kali gagal, Edison mengatakan bahwa ia tidak pernah gagal satu kali pun! Ia menganggap bahwa apa yang dilakukannya adalah menemukan ribuan benda yang tidak bermanfaat, yang tidak bisa dihindari dalam proses penciptaan.

Kolonel Sanders, telah ditolak oleh seribu lebih toko ketika ia menawarkan resep masakan ayam goreng. Akhirnya ia begitu tersohor dengan Kentucky Fried Chicken-nya (KFC).

Mesin photo copy Xerox sebelum tersohor seperti sekarang ini, pernah ditolak oleh 20 perusahaan.

Walt Disney runtuh 302 kali sebelum menjadi sebuah bisnis begitu gagah dan kuat. Henry Ford mengalami kebangkrutan sebanyak 5 kali. .

Saudaraku, ada resep menghadapi kegagalan yang dibagi oleh Ibrahim Hamd Al-Qu’ayyid.
Resep manakala kita menghadapi kegagalan berikut ini :
1.Ketika merasa gagal, mendengar berita kegagalan, atau menangkap tanda-tandanya, maka Anda harus mengucapkan kalimat istirja’, yaitu kalimat innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami berasal dari Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali) dan laa haula walaa quwwata illaa billah (tiada daya dan kekuatan, melainkan dari Allah).
2.Buanglah jauh-jauh rasa gelisah, sedih, dan putus asa.
3.Ingatlah selalu nikmat Allah dan apa yang Dia berikan kepada Anda.
4.Analisislah kegagalan itu, hasil-hasilnya, dan faktor-faktor yang menyebabkannya
5.Berpikirlah positif, penuh harap dan jangan kaitkan kegagalan Anda dengan orang lain.
6.Membantu orang lain, memberi dukungan kepada mereka, meringankan penderitaan dan musibah mereka, serta memenuhi kebutuhan mereka menjadi kunci dihapuskannya kesulitan.
Rosulloh bersabda,
”Barangsiapa yang membukakan satu kesempitan saudaranya dari kesempitan-kesempitan dunia, maka Allah akan membuka untuknya satu kesempitan dari kesempitan Hari Kiamat.” (Muttafaq ‘alaih).

“Kita butuh kegagalan, untuk menyempurnakan sikap dan mental kita…Kewajiban manusia adalah berusaha tiada henti, tanpa kenal putus asa…Kegagalan akan menghancurkan kesombongan, sehingga menciptakan sikap rendah hati (tawadhu)... “ (Ary Ginanjar)

“Sekarang apa yang ingin Anda lakukan adalah belajar bagaimana menyikapi kegagalan. Setelah Anda mengalami kegagalan, analisislah dan temukan mengapa Anda gagal. Karena kegagalan adalah satu langkah yang akan membimbing ke puncak kesuksesan. Dan Anda tidak akan bisa sampai langkah terakhir kalau Anda tidak melewati semua langkah. Cobalah lagi apabila Anda gagal. Karena ketika pertama kali Anda melakukan sesuatu, sesungguhnya Anda adalah orang amatir (tidak profesional) – yakni seseorang yang melakukan sesuatu untuk pertama kali. Orang yang mampu sukses ketika pertama kali melakukan sesuatu sebenarnya adalah benar-benar suatu kecelakaan –di luar kebiasaan--.”( Charles Franklin Kattering, penemu starter mobil otomatis)

Kalimat Watson, pendiri IBM pasti melecutkan semangat kita
“Kalau ingin sukses, lipatgandakan kegagalan.”

Dalam menghadapi permasalahan, terkadang kita terlupa akan konsep yang paling jelas.
Bukankah Allah sudah berjanji dalam Al Qur’an Surah Alam Nasyroh : 5-6
5.Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6.Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Ibnu Jauzy Al Muhdisy mengatakan "Hari - hari adalah lembaran baru untuk goresan amal perbuatan. Jadikanlah hari - harimu sarat dengan amalan yang terbaik. Kesempatan itu akan segera lenyap secepat perjalanan awan, dan menunda – nunda perkerjaan tanda orang yang merugi. Dan barangsiapa yang bersampan kemalasan, ia akan tenggelam bersamanya"


Sebagai Penutup
Kita tidak pernah gagal, karena setiap langkah kita yang belum mencapai tujuan yang diharapkan sesungguhnya adalah sebuah pembelajaran terbaik yang pernah kita dapatkan. Terus berjuang dalam kehidupan kita. Bersemangatlah
Karena Harapan Itu Masih Ada

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…"
(QS Al Baqarah 286)
Selengkapnya...